Pengertian Vulkanisme, Gejala dan Tipe Gunung Api

Pengertian Vulkanisme – Vulkanisme Indonesia merupakan salah satu Negara yang berada dalam jalur Ring of fire atau cincin api pasifik. Hal ini terjadi karena Indonesia dilalui jalur pegunungan aktif dunia yaitu sirkum pasifik dan sirkum mediterania. Penyebaran Pegunungan dan Gunung Api Secara garis besar, terdapat dua rangkaian pegunungan.

  1. Sirkum Mediteran, berawal dari Pegunungan Atlas, Yura, Alpen (Eropa), Kaukasus, Himalaya (Asia), tenggelam dan muncul sebagai pulau-pulau di Kep. Andaman, tenggelam dan muncul sebagai Pegunungan Bukit Barisan, pegunungan di Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, dan berakhir di Kep. Maluku.
  2. Sirkum Pasifik, rangkaian pegunungan yang berawal dari Pegunungan Cordileras De Los Andes (Amerika Selatan), Rocky, Sierra Madre (Amerika Utara), tenggelam dan muncul sebagai pegunungan di Kep. Jepang, tenggelam dan muncul sebagai pegunungan di Kep. Filipina, tenggelam dan muncul sebagai pegunungan di Pulau Sulawesi, dan berakhir di Kep. Maluku.
Pengertian Vulkanisme
Pengertian Vulkanisme

Bila anda melihat peta Indonesia, maka anda akan menjumpai sederet gunung berapi aktif yang memanjang dari ujung barat hingga timur. Hal ini yang menyebabkan Indonesia sering dilanda bencana alam berupa gempa bumi dan gunung meletus. Salah satu contoh gunung api yang sedang menunjukan aktivitas vulkaniknya adalah gunung sinabung yang terletak di provinsi sumatera utara.

Baca juga : Pengertian Tektonisme, Jenis Dan Dampaknya

Gunung Sinabung ditetapkan berstatus Awas atau Level IV oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)  sejak 2 Juni 2015 hingga februari 2017.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejak 2-7 februari 2017 gunung sinabung sudah 47 kali meletus. Bagaimana proses aktivitas vulkanisme gunung api terjadi? Berikut penjabaran mengenai vulkanisme. Vulkanisme adalah segala kegiatan magma dari lapisan dalam litosfera yang bergerak ke lapisan yang lebih atas atau keluar ke permukaan bumi. Keluarnya magma ke permukaan bumi umumnya melalui retakan batuan, patahan, dan pipa kepundan pada gunung api. Jika magma yang berusaha keluar tidak mencapai permukaan bumi, proses ini disebut intrusi magma. Jika magma sampai di permukaan bumi, proses ini disebut ekstrusi magma. Magma yang sudah keluar ke permukaan bumi disebut lava.

Berdasarkan proses keluarnya magma, ada tiga jenis erupsi magma yaitu

  • Erupsi eksplosif,dimana letusan sangat kuat akibat tekanan gas magma dan menyemburkan bahan-bahan vulkanik yang padat dan cair.
  • Erupsi efusif, dimana letusan gunung api mengeluarkan lava.
  • Erupsi campuran, dimana letusan yang terjadi selang-seling antara eksplosif dan efusif.

Secara umum tipe gunung api dijabarkan sebagai berikut. Gunung api berdasarkan keaktifannya:

  • Gunung api aktif dengan ciri mengeluarkan asap, debu, dan lava, serta bau belerang sangat menyengat.
  • Gunung api tidur (dormant) dengan ciri tidak meletus dalam waktu yang lama, bisa meletus kapan saja.
  • Gunung api mati atau padam mempunyai ciri tidak mempunyai catatan letusan dan tidak ada tanda-tanda kemungkinan meletus.

Menurut bentuknya gunung api digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu

  • Gunung api perisai, yaitu gunung api yang bentuknya seperti perisai atau tameng. Gunung api ini lerengnya sangat landai. Contoh: G. Maona Loa di Hawaii. Erupsi yang dimikian disebut erupsi efusif.
  • Gunung api strato, yaitu gunung api yang berbentuk seperti kerucut. Terbentuk karena erupsi efusif dan eksplosif dengan beberapa kali letusan yang kuat. Gunung semacam ini makin lama akan makin bertambah tinggi. Pada umumnya gunung api di Indonesia termasuk jenis gunung api strato.
  • Gunung api maar, yaitu gunung api yang lubang kepundan berbentuk corong. Terbentuk karena erupsi eksplosif yang tidak terlalu kuat dengan letusan hanya sekali sehingga terbentuklah lubang besar (kawah/maar). Contoh: Gunung Paricutin di Meksiko, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara. Bila dasar dan dinding corong kepundan tak dapat ditembus air maka akan terbentuk danau kawah, seperti pada G. Rinjani.

Gunung api yang akan meletus biasanya mengeluarkan tanda-tanda alami sebagai berikut:

  • suhu di sekitar kawah naik;
  • banyak sumber air di sekitar gunung itu mengering; sering terjadi gempa (vulkanik);
  • sering terdengar suara gemuruh dari dalam gunung;
  • banyak binatang yang menuruni lereng.

Berbagai akibat letusan gunung api dikelompokkan menjadi dampak menguntungkan (positif) dan dampak merugikan (negatif).

 Dampak negatif dari letusan gunung api adalah:

  1. Berbagai material padat menghancurkan permukiman, berbagai fasilitas dan sarana prasarana (jembatan, jalan, dan lain-lain).
  2. abu dan debu yang keluar dari gunung api dapat menimbulkan berbagai gangguan, seperti: gangguan pernafasan; gangguan pandangan; gangguan lalu lintas udara
  3. Berbagai material cair dapat merusak hutan, perkebunan, dan sawah. Lahar panas menghanguskan semua yang dilalui. Demikian pula dengan lahar dingin yang hanyut bersama air hujan dengan kecepatan tinggi.
  4. Material gas bersuhu tinggi yang mungkin beracun dapat mematikan kehidupan dan awan panas dapat memusnahkan apa pun yang dilaluinya.
  5. Letusan gunung api bawah laut dapat menyebabkan terjadinya gelombang Tsunami, seperti tsunami di di Banten dan Lampung akibat letusan Gunung Krakatau (1883).

Selain kerugian, letusan gunung api memberikan beberapa keuntungan diantaranya:

  • Muntahan gunung api (abu, lava, dan lahar) mengandung unsur hara yang dapat meningkatkan kesuburan tanah.
  • Material hasil letusan yang tertimbun di sekitar gunung, juga sungai-sungai yang dilaluinya dapat digali dan dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Misalnya: batu, kerikil, pasir, dan sebagainya.
  • Berbagai gejala sesudah letusan gunung api (post vulkanisme), dimanfaatkan untuk kepentingan teknologi maupun wisata. Contohnya sebagai berikut. Muncul berbagai sumber gas (eksalasi), seperti sumber gas belerang (solfatar), sumber gas air (fumarol), atau sumber gas asam arang (mofet). Muncul sumber-sumber air panas.
  • Muncul sumber air yang mengandung mineral, seperti belerang. Sumber air itu dinamakan sumber air makdani.
  • Muncul mata air panas yang memancar, disebut
  • Adanya gunung api yang tinggi menyebabkan terjadinya hujan orografis, sehingga daerah itu menjadi daerah yang banyak hujan.
  • Daerah yang bergunung api biasanya merupakan daerah tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai daerah hutan, perkebunan, dan daerah pariwisata.

Banyaknya gunung api di Indonesia bukan suatu ancaman yang menakutkan, melainkan sebuah anugerah yang perlu kita syukuri. Bencana gunung meletus yang datang tiba-tiba, memang tidak dapat kita cegah, namun kita dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa dengan cara memberikan jalur evakuasi untuk penduduk yang tinggal disekitar lereng gunung.

Sidebar